Skip to main content

Solusi Untuk Bearing Equaliser Rusak Pada Pumping Unit Thomasen BF

Jejak Tangguh Thomansen BF: Sejarah, Komponen, dan Rahasia Modifikasi Bearing Equalizer ala Dhevils Mechanic

Halo, Sobat Dhevils Mekanik! 😊

Kembali lagi bersama saya, Dwi Hardi, di ruang berbagi pengalaman Dhevils Mechanic. Hari ini, kita akan mengulas salah satu "pekerja keras" di ladang minyak yang keberadaannya sangat ikonik: Pumping Unit Thomansen BF.

Bagi saya, Thomansen BF bukan sekadar besi tua. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang produksi minyak di Indonesia. Mari kita bedah sejarahnya sebelum masuk ke urusan kunci inggris.


1. Perjalanan Sejarah: Dari Pabrik Thomansen hingga ke Tanah Air

Thomansen merupakan brand manufaktur asal Belanda yang dikenal sangat presisi dalam pengerjaan heavy machinery. Seri BF (Beam Faggot) dirancang khusus untuk memenuhi standar API (American Petroleum Institute) dengan durabilitas tinggi.

Pada era kejayaan minyak Indonesia (sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an), unit-unit Thomansen dikirim langsung dari pabriknya di Belanda menggunakan kapal laut menuju pelabuhan di Indonesia, lalu didistribusikan ke berbagai lapangan minyak besar. Ketangguhannya membuat unit ini masih bertahan hingga puluhan tahun, termasuk di lapangan tua seperti di wilayah kerja PT Pertamina EP Field Cepu.


2. Mengenal Komponen & Fungsi Thomansen BF

Untuk menghasilkan gerakan naik-turun (reciprocating) yang stabil guna mengangkat minyak dari perut bumi, Thomansen BF mengandalkan komponen kunci berikut:

  • Prime Mover: Motor listrik atau mesin diesel sebagai sumber penggerak utama.

  • Gear Reducer: "Jantung" transmisi yang mengubah putaran tinggi mesin menjadi putaran rendah dengan torsi yang sangat besar.

  • Samson Post: Tiang penyangga utama yang menopang seluruh beban dinamis unit.

  • Walking Beam: Lengan ayun yang memberikan gerakan naik-turun pada Sucker Rod.

  • Horse Head: Bagian depan yang menyerupai kepala kuda, menjaga agar tarikan kabel (wireline) tetap lurus vertikal.

  • Equalizer & Pitman Arm: Komponen penghubung yang memastikan beban terbagi rata saat proses pengangkatan (upstroke dan downstroke).


3. Masalah Umum (Troubleshooting) pada Thomansen BF

Meskipun tangguh, faktor usia dan beban kerja 24 jam nonstop sering memunculkan masalah:

  1. Gearbox Overheating: Biasanya akibat oli yang sudah jenuh atau ausnya gigi pinion.

  2. Unbalanced Load: Ditandai dengan suara mesin yang "mengayun" tidak stabil, perlu penyetelan Counterweight.

  3. Vibrasi Berlebih: Seringkali berasal dari fondasi yang retak atau baut pengikat Samson Post yang kendur.

  4. Kerusakan Bearing: Terutama pada bagian Saddle Bearing dan Equalizer Bearing.


4. Case Study: Modifikasi Bearing Equalizer di Lokasi Ledok, Field Cepu

Inilah bagian yang paling berkesan dalam perjalanan saya sebagai Dhevils Mechanic. Beberapa waktu lalu, kami menghadapi kendala serius pada unit Thomansen BF di Lokasi Ledok, PT Pertamina EP Field Cepu.

Masalahnya:

Equalizer Bearing pada unit tersebut mengalami kerusakan fatal akibat keausan material dan beban sentakan yang tinggi. Masalahnya, mencari spare part original untuk unit tipe lama ini membutuhkan waktu lama (indent), sementara produksi minyak tidak boleh berhenti.

Solusi Modifikasi Dhevils Mechanic:

Alih-alih menunggu spare part yang belum pasti, saya memutuskan melakukan modifikasi bearing.

  1. Re-design Housing: Kami melakukan machining ulang pada housing equalizer agar bisa mengakomodasi tipe bearing yang lebih heavy duty dan tersedia di pasar domestik.

  2. Custom Shaft Sleeves: Membuat selongsong (sleeve) baru yang dipasang pada poros equalizer untuk menyesuaikan dimensi bearing baru tanpa mengurangi kekuatan struktur asli.

  3. Upgrade System Lubrication: Saya menambahkan jalur grease nipple eksternal yang lebih mudah dijangkau agar pemeliharaan rutin bisa dilakukan tanpa harus menghentikan unit terlalu lama.

Detail Teknis: Modifikasi & Spesifikasi Torsi Thomansen BF

Dalam proyek modifikasi di Lokasi Ledok, ketepatan pemilihan material dan kekuatan pengencangan adalah kunci agar unit tidak kembali breakdown. Berikut adalah data teknis yang kami terapkan:

1. Spesifikasi Bearing (Equalizer Modification)

Untuk menggantikan sistem bearing lama yang sulit didapat, kami melakukan upgrade ke tipe yang lebih tahan terhadap beban kejut (shock load):

  • Tipe Bearing: Spherical Roller Bearing seri 22222 EK.

  • Keunggulan: Mampu mengakomodasi ketidaksejajaran (misalignment) kecil pada poros equalizer.

  • Sleeve: Menggunakan Adapter Sleeve tipe H-322 untuk memastikan cengkeraman maksimal pada poros.

2. Tabel Spesifikasi Torsi Baut (Torque Settings)

Mengingat unit ini bekerja dengan beban dinamis yang besar, setiap baut harus ditarik sesuai spesifikasi agar tidak terjadi kelonggaran akibat vibrasi:

KomponenUkuran BautNilai Torsi (Nm)Keterangan
Equalizer Bearing Bolts1-1/8"850 NmBaut pengikat housing equalizer
Saddle Bearing Bolts1-1/4"1.100 NmBaut utama pada Samson Post
Pitman Arm Nut1"600 NmSambungan Pitman ke Equalizer
Samson Post Base Bolts1-1/2"1.600 NmBaut fondasi struktur utama
Crank Pin Nut2-1/2">2.500 NmGunakan bantuan Slogging Spanner

Hasilnya? Unit Thomansen BF di Ledok kembali running dengan suara yang jauh lebih halus dan vibrasi yang minimal. Modifikasi ini membuktikan bahwa keterbatasan part bukan penghalang bagi seorang mekanik untuk tetap menjaga aliran minyak bumi Indonesia.

Tips Tambahan untuk Blog: "Penting bagi Sobat Mekanik untuk selalu melakukan pengecekan ulang (re-torque) setelah unit running selama 24 jam pertama pasca modifikasi. Panas dan getaran awal biasanya akan membuat baut mengalami sedikit peregangan."


Penutup

Merawat unit tua seperti Thomansen BF menuntut kita untuk tidak hanya memiliki otot, tapi juga otak yang kreatif. Modifikasi di Ledok adalah bukti bahwa pengalaman di lapangan adalah guru terbaik.

Sobat Mekanik punya pengalaman serupa menangani Pumping Unit Thomansen atau unit legendaris lainnya? Mari kita diskusikan di kolom komentar!


Salam Putaran Stabil, Dwi Hardi – Sang Dhevils Mechanic


Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...