Skip to main content

Jejak Sang Legenda: Perjalanan Gas Turbine Generator Kongsberg dari Skandinavia hingga ke Offshore Indonesia


Halo, Sobat dhevils Mekanik! 😊ketemu lagi dengan tulian - tulisan dhevils mechanic yang jelas sering mambahas dunia mechanic dimOila nda gas Industry dimana sering di ulas terkiat peralatan yang digunakan, terkait troubleshot dan trik - trik lain dalam menyelseikan permasalahn di dunia kerja oil and gas. dan kali ini yuk kita bahas terkait kongberg generator

Jika kita berbicara tentang jantung dari sebuah platform offshore, kita tidak bisa melewatkan nama besar: Kongsberg Gas Turbine. Mesin ini bukan sekadar tumpukan baja dan turbin; ia adalah simbol ketangguhan yang telah menerangi instalasi minyak dan gas di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, bagaimana sebuah teknologi dari tanah Norwegia yang dingin bisa sampai dan beroperasi di tengah panasnya laut tropis kita? Mari kita bedah sejarah dan perjalanannya!


1. Kelahiran dari Tanah Viking (Sejarah Awal)

Sejarah Kongsberg VÃ¥penfabrikk (induk perusahaannya) sebenarnya sudah dimulai sejak abad ke-19, namun era emas gas turbin dimulai sekitar tahun 1960-an.

Kongsberg mengembangkan turbin gas radial yang revolusioner, salah satunya model KG2. Berbeda dengan turbin aksial yang panjang, desain radial ini membuat mesin lebih ringkas, ringan, dan yang paling penting: sangat handal. Mesin ini dirancang untuk bekerja di lingkungan ekstrem, menjadikannya kandidat sempurna untuk industri maritim dan oil and gas.

Fakta Menarik: Tahukah kamu bahwa desain Kongsberg sangat sukses sehingga kemudian unit bisnis gas turbin ini diakuisisi oleh Dresser-Rand, yang kini menjadi bagian dari keluarga Siemens Energy?

2. Mengapa Harus Kongsberg di Offshore?

Di tengah laut, ruang adalah kemewahan. Kamu tidak punya lahan luas seperti di darat. Kongsberg menjadi primadona karena:

  • Power-to-Weight Ratio: Menghasilkan daya besar dalam ukuran kecil.

  • Dual Fuel Capability: Bisa berjalan dengan gas (dari sumur) maupun diesel.

  • Minimal Vibrasi: Sangat penting agar tidak merusak struktur platform yang melayang di atas air.

3. Perjalanan Menuju Lokasi Offshore (The Journey)

Proses membawa unit GTG (Gas Turbine Generator) ke lokasi offshore adalah sebuah mahakarya logistik dan teknik:

Tahap 1: Pabrikasi & Testing (FAT)

Unit dirakit di pabrik dengan standar presisi tinggi. Sebelum dikirim, unit harus melewati Factory Acceptance Test (FAT) untuk memastikan semua parameter sensor, suhu, dan vibrasi sesuai spek.

Tahap 2: Pengiriman (The Logistics)

Mesin ini dikemas dalam skid raksasa. Perjalanan dimulai dari pelabuhan di Eropa, melintasi samudera dengan kapal kargo menuju pangkalan logistik (supply base) di Indonesia.

Tahap 3: Heavy Lift Operation

Ini adalah bagian yang paling mendebarkan. Menggunakan Crane Barge raksasa, unit GTG diangkat dari kapal supply menuju deck platform. Bayangkan mengangkat beban puluhan ton di atas permukaan laut yang bergelombang—presisi adalah harga mati!

Tahap 4: Hook-up & Commissioning

Setelah terpasang di pedestal, tugas kita sebagai mekanik dimulai. Kita menghubungkan jalur gas, sistem pendingin, dan kelistrikan. Di sinilah "jiwa" mesin mulai dihidupkan melalui proses first fire.


4. Pengalaman di Lapangan: Menjaga Sang Legenda

Bagi kami di Dhevils Mechanic, merawat Kongsberg (atau Dresser-Rand KG2) adalah sebuah kehormatan. Mesin ini "berbicara" melalui suaranya. Jika kamu mendengar high-pitched whine yang stabil, itu tandanya semua berjalan normal. Namun, sedikit saja ada perubahan suara, insting mekanik kita harus langsung bekerja.

Tantangan terbesar di offshore adalah korosi garam. Filter udara harus selalu dalam kondisi prima agar udara yang masuk ke kompresor turbin tidak membawa partikel garam yang bisa merusak bilah turbin (pitting).

Tentu, mari kita pertajam sisi teknisnya. Kita akan masuk ke bagian Sistem Kontrol dan Proteksi, karena inilah "otak" yang memastikan turbin tidak hancur saat terjadi malfungsi.

Berikut adalah tambahan bagian spesifik untuk disisipkan ke dalam draf blog tersebut:

5. Bedah Teknis: Otak dan Sistem Proteksi (Control System)

Sobat Mekanik, sebuah turbin gas yang berputar di kecepatan belasan ribu RPM (seperti KG2 yang mencapai sekitar 18.000 RPM) bisa menjadi sangat berbahaya jika kehilangan kendali. Di sinilah peran Control System masuk sebagai penjaga gawang.

Pada unit-unit Kongsberg (yang kini banyak menggunakan sistem berbasis Woodward atau Allen-Bradley), ada tiga pilar proteksi utama yang harus kita pahami:
A. Overspeed Protection (Nyawa Utama Mesin)

Ini adalah proteksi paling kritis. Jika beban (load) lepas secara tiba-tiba, turbin bisa berakselerasi melebihi batas mekanisnya.

Cara Kerja: Sensor magnetik (Magnetic Pick-up) membaca kecepatan pada gearbox. Jika melewati ambang batas (biasanya 110%), sistem akan memerintahkan Fuel Stop Valve untuk menutup dalam hitungan milidetik.


Tips Mekanik: Pastikan jarak (gap) antara sensor dan gigi gear tepat. Terlalu jauh, sinyal hilang; terlalu dekat, sensor bisa terhantam.

B. EGT Monitoring (Exhaust Gas Temperature)

Suhu gas buang adalah indikator kesehatan ruang bakar (combustor).

Tantangan: Jika suhu terlalu tinggi (Over-temperature), bilah turbin bisa meleleh atau mengalami thermal fatigue.


Sistem Kontrol: Menggunakan beberapa thermocouple yang dipasang melingkar. Jika terjadi selisih suhu yang terlalu jauh antar sensor (spread temperature), itu pertanda ada nozzle bahan bakar yang mampet atau pembakaran tidak merata.

C. Sistem Start-Up Logic (The Sequential Step)

Berbeda dengan mesin mobil, Kongsberg punya urutan start yang kaku:

Purging: Turbin diputar tanpa api untuk membuang sisa gas di exhaust (mencegah ledakan).


Ignition: Pemantik menyala, bahan bakar masuk.

Warm-up: Putaran ditahan di kecepatan rendah untuk pemuaian material yang rata.


Accelerating: Menuju Rated Speed hingga sinkron dengan generator.

6. Tantangan Operasional di Tengah Laut

Bekerja di unit offshore, kita berhadapan dengan Fuel Gas Quality. Gas dari sumur bor seringkali masih mengandung cairan (liquid carryover) atau kontaminan.

Proteksi Tambahan: Di sini kita wajib memastikan Scrubbers dan Fuel Gas Conditioning berfungsi 100%. Sedikit saja cairan masuk ke ruang bakar turbin, dampaknya bisa menyebabkan Flame Out atau kerusakan permanen pada Turbine Wheel.Penutup: Pesan untuk Sobat Mekanik

Menangani Kongsberg Gas Turbine membutuhkan ketelitian lebih dari sekadar mengencangkan baut. Kita harus paham logika di balik setiap sensor. Jangan pernah melakukan bypass pada sistem proteksi hanya demi mengejar target produksi, karena keselamatan kerja di offshore adalah prioritas utama.

Tentu, mari kita pertajam sisi teknisnya. Kita akan masuk ke bagian Sistem Kontrol dan Proteksi, karena inilah "otak" yang memastikan turbin tidak hancur saat terjadi malfungsi.

Berikut adalah tambahan bagian spesifik untuk disisipkan ke dalam draf blog tersebut:


5. Bedah Teknis: Otak dan Sistem Proteksi (Control System)

Sobat Mekanik, sebuah turbin gas yang berputar di kecepatan belasan ribu RPM (seperti KG2 yang mencapai sekitar 18.000 RPM) bisa menjadi sangat berbahaya jika kehilangan kendali. Di sinilah peran Control System masuk sebagai penjaga gawang.

Pada unit-unit Kongsberg (yang kini banyak menggunakan sistem berbasis Woodward atau Allen-Bradley), ada tiga pilar proteksi utama yang harus kita pahami:

A. Overspeed Protection (Nyawa Utama Mesin)

Ini adalah proteksi paling kritis. Jika beban (load) lepas secara tiba-tiba, turbin bisa berakselerasi melebihi batas mekanisnya.

  • Cara Kerja: Sensor magnetik (Magnetic Pick-up) membaca kecepatan pada gearbox. Jika melewati ambang batas (biasanya 110%), sistem akan memerintahkan Fuel Stop Valve untuk menutup dalam hitungan milidetik.

  • Tips Mekanik: Pastikan jarak (gap) antara sensor dan gigi gear tepat. Terlalu jauh, sinyal hilang; terlalu dekat, sensor bisa terhantam.

B. EGT Monitoring (Exhaust Gas Temperature)

Suhu gas buang adalah indikator kesehatan ruang bakar (combustor).

  • Tantangan: Jika suhu terlalu tinggi (Over-temperature), bilah turbin bisa meleleh atau mengalami thermal fatigue.

  • Sistem Kontrol: Menggunakan beberapa thermocouple yang dipasang melingkar. Jika terjadi selisih suhu yang terlalu jauh antar sensor (spread temperature), itu pertanda ada nozzle bahan bakar yang mampet atau pembakaran tidak merata.

C. Sistem Start-Up Logic (The Sequential Step)

Berbeda dengan mesin mobil, Kongsberg punya urutan start yang kaku:

  1. Purging: Turbin diputar tanpa api untuk membuang sisa gas di exhaust (mencegah ledakan).

  2. Ignition: Pemantik menyala, bahan bakar masuk.

  3. Warm-up: Putaran ditahan di kecepatan rendah untuk pemuaian material yang rata.

  4. Accelerating: Menuju Rated Speed hingga sinkron dengan generator.


6. Tantangan Operasional di Tengah Laut

Bekerja di unit offshore, kita berhadapan dengan Fuel Gas Quality. Gas dari sumur bor seringkali masih mengandung cairan (liquid carryover) atau kontaminan.

  • Proteksi Tambahan: Di sini kita wajib memastikan Scrubbers dan Fuel Gas Conditioning berfungsi 100%. Sedikit saja cairan masuk ke ruang bakar turbin, dampaknya bisa menyebabkan Flame Out atau kerusakan permanen pada Turbine Wheel.

  • Sinkronisasi Generator ke busbar platform.

    Dalam dunia offshore, sinkronisasi bukan sekadar menghubungkan kabel, tapi menyatukan dua "irama" listrik agar menjadi satu harmoni. Jika tidak pas, akibatnya bisa fatal bagi mekanik maupun mesin (bisa terjadi flashover atau kerusakan mekanis pada shaft).

    Berikut adalah 4 syarat mutlak (kondisi pararel) yang harus dipenuhi sebelum breaker ditutup:

    1. Tegangan Harus Sama (Voltage Matching)

    Tegangan generator yang baru masuk (incoming) harus sama dengan tegangan busbar yang sedang beroperasi.

    • Jika tidak sama: Akan terjadi aliran daya reaktif besar yang bisa merusak isolasi generator.

    • Cara Atur: Melalui AVR (Automatic Voltage Regulator).

    2. Frekuensi Harus Sama (Frequency Matching)

    Frekuensi generator harus hampir identik dengan busbar (biasanya di Indonesia 50 Hz).

    • Tips Pro: Biasanya kita mengatur frekuensi incoming sedikit lebih tinggi (sekitar 50.1 Hz atau 50.2 Hz). Tujuannya agar saat sinkron, generator langsung mengambil beban sedikit (positive load), bukan malah terdorong oleh sistem (reverse power).

    • Cara Atur: Melalui Governor pada turbin untuk mengatur kecepatan putaran (RPM).

    3. Urutan Phase Harus Sama (Phase Sequence)

    Ini biasanya dipastikan saat instalasi awal. Phase L1, L2, dan L3 pada generator harus urut dengan L1, L2, dan L3 di busbar. Jika terbalik, motor-motor di platform akan berputar ke arah yang salah!

    4. Sudut Phase Harus Sama (Phase Angle/Synchronism)

    Inilah bagian yang paling krusial. Gelombang sinus antara generator dan busbar harus berada di posisi yang sama (berhimpit).

    • Alat Bantu: Kita menggunakan Synchroscope. Jarum harus bergerak perlahan searah jarum jam menuju angka 12 (posisi jam 11 atau jam 12 kurang sedikit adalah waktu terbaik untuk menekan tombol Close Breaker).


    Bagaimana Jika Gagal?

    Jika kita memaksakan sinkronisasi saat kondisi di atas belum terpenuhi (disebut Out-of-Phase Synchronization), beban kejutnya sangat besar. Pada turbin gas seperti Kongsberg, ini bisa menyebabkan:

    • Shear Pin Putus: Sebagai proteksi mekanis agar turbin tidak hancur.

    • Blackout Total: Sistem proteksi platform akan jatuh untuk melindungi peralatan sensitif.


    Sobat Mekanik, Sinkronisasi sekarang memang banyak dilakukan secara otomatis oleh PMS (Power Management System), tapi sebagai mekanik, kita wajib paham cara manualnya sebagai back-up di kondisi darurat.


Penutup: Pesan untuk Sobat Mekanik

Menangani Kongsberg Gas Turbine membutuhkan ketelitian lebih dari sekadar mengencangkan baut. Kita harus paham logika di balik setiap sensor. Jangan pernah melakukan bypass pada sistem proteksi hanya demi mengejar target produksi, karena keselamatan kerja di offshore adalah prioritas utama.


Kesimpulan Kongsberg Gas Turbine bukan sekadar mesin; ia adalah saksi sejarah perkembangan industri energi dunia. Dari desain awal di Norwegia hingga menjadi andalan di lepas pantai Indonesia, perjalanannya adalah bukti kecemerlangan teknik manusia.

Sebagai mekanik, tugas kita bukan hanya memastikan ia terus berputar, tapi juga menghargai sejarah dan teknologi yang ada di dalamnya.

Sobat Mekanik, punya pengalaman unik saat melakukan maintenance pada unit Kongsberg atau Dresser-Rand? Share ceritanya di kolom komentar ya!


Salam Putaran Tinggi, Tim Dhevils Mechanic






 

Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...