Skip to main content

Dibalik Dinding Besi H2S Absorber: Cara Menjinakkan Gas Beracun di Lapangan Migas


Halo, Sobat Mekanik! 😊

Kembali lagi bersama saya, Dwi Hardi, di blog Dhevils Mechanic. Hari ini kita tidak akan membahas mesin besar, melainkan membahas proses kimiawi yang terjadi di balik fasilitas pengolahan gas alam.

Pernahkah Sobat mendengar bau telur busuk di area gas plant? Itu adalah tanda adanya Hidrogen Sulfida (H2S)Gas ini tidak hanya sangat beracun bagi manusia, tapi juga menjadi "musuh bebuyutan" bagi peralatan mekanik karena sifatnya yang sangat korosif (menyebabkan pitting pada pipa dan kerusakan pada komponen engine).

Mari kita bedah bagaimana proses penyerapan H2S ini bekerja agar gas alam kita menjadi "manis" (Sweet Gas).


1. Mengapa H2S Harus Dibuang?

Selain masalah keselamatan nyawa,H2S harus dibuang karena:

  • Korosi: Bereaksi dengan air membentuk asam yang memakan dinding pipa (Sulfide Stress Cracking).

  • Emisi: Jika terbakar (di flare atau engine),H2S akan berubah menjadi H2S (Sulfur Dioksida) yang menyebabkan hujan asam.

  • Standard Gas: Pembeli gas (seperti industri atau PLN) mensyaratkan kandungan H2S yang sangat rendah (biasanya di bawah 4 ppm).


2. Metode Utama: Amine Sweetening Process

Metode yang paling umum digunakan di lapangan migas Indonesia adalah menggunakan cairan Amine (seperti MEA, DEA, atau MDEA). Proses ini terjadi dalam sebuah siklus tertutup:

A. Absorber Tower (Menyerap)

Gas alam mentah (Sour Gas) masuk dari bagian bawah menara, sementara cairan Amine (disebut Lean Amine) disemprotkan dari bagian atas.

  • Di sini terjadi kontak: Amine akan "mengikat" molekul H2S dan  secara kimiawi.

  • Gas yang keluar dari atas menara sudah bersih dan disebut Sweet Gas.

  • Cairan Amine yang sudah kenyang dengan gas beracun terkumpul di bawah dan disebut Rich Amine.

B. Regenerator Tower (Melepas)

Rich Amine tadi kemudian dipanaskan di menara regenerator.

  • Suhu panas akan memutus ikatan kimia antara Amine dan H2S

  • Gas beracun H2S akan dilepas ke bagian atas (biasanya dikirim ke Flare atau Sulfur Recovery Unit).

  • Amine yang sudah bersih kembali menjadi Lean Amine dan diputar kembali ke Absorber. Begitu seterusnya.


3. Metode Alternatif: Solid Bed Scavenger

Untuk lapangan dengan kandungan H2S yang tidak terlalu tinggi (skala kecil), kita sering menggunakan sistem Scavenger atau media padat.

  • Gas dilewatkan melalui bejana (vessel) berisi media seperti Iron Sponge (oksida besi).

  • H2S akan bereaksi dengan besi dan mengendap menjadi sulfur padat. Jika media sudah jenuh, tinggal diganti dengan yang baru. Lebih simpel tapi biaya operasinya tinggi jika H2S-nya banyak.


4. Dampak H2S terhadap Engine 

Sebagai mekanik, kita harus tahu dampaknya jika proses penyerapan ini gagal:

  1. Spark Plug Failure: Busi cepat mati karena kerak sulfur.

  2. Acidic Oil: Gas H2S yang bocor ke karter akan bereaksi dengan oli, menurunkan angka TBN (Total Base Number), dan membuat oli menjadi asam yang merusak bearing.

  3. Valve Pitting: Katup mesin akan berlubang-lubang kecil (keropos) karena serangan asam sulfur.


H2S Absorber (sering disebut juga Contactor) adalah "medan tempur" utama di mana gas alam yang jahat (beracun) diubah menjadi gas yang ramah lingkungan dan siap pakai.

Sebagai mekanik, kita melihat bejana ini mungkin hanya sebagai tabung besar, tapi di dalamnya terjadi proses fisika dan kimia yang sangat presisi. Berikut adalah urutan proses di dalam H2S Absorber untuk blog Dhevils Mechanic:


Di Balik Dinding Besi: Apa yang Terjadi di Dalam H2S Absorber?

Sobat Mekanik, bayangkan H2S Absorber adalah sebuah filter raksasa. Proses di dalamnya menggunakan prinsip counter-current flow (aliran berlawanan arah). Mari kita bedah langkah demi langkah:

1. Masuknya Sour Gas (Gas Mentah)

Gas alam yang masih mengandung H2S tinggi (Sour Gas) masuk melalui bagian bawah menara. Gas ini memiliki tekanan yang cukup kuat untuk bergerak naik ke atas menuju puncak menara.

2. Turunnya Lean Amine (Cairan Penyerap)

Di saat yang bersamaan, cairan kimia yang kita sebut Lean Amine (Amine yang masih bersih/segar) dipompakan masuk dari bagian atas menara. Karena gaya gravitasi, cairan ini akan turun menghujani seluruh isi menara.

3. Kontak di Dalam Tray atau Packing

Inilah rahasianya! Di dalam menara absorber terdapat banyak tingkatan yang disebut Tray (piringan) atau Packing (media pengisi seperti ring-ring besi/keramik).

  • Fungsinya: Memperluas area kontak antara gas yang naik ke atas dan cairan Amine yang turun ke bawah. 

  • Proses Kimia: Saat gas "bertabrakan" dengan butiran Amine di atas Tray, cairan Amine akan secara selektif menangkap (menyerap) molekul H2S. Ikatan kimia terbentuk, dan H2S kini berpindah dari fase gas ke dalam fase cair.

4. Keluarnya Sweet Gas (Gas Bersih)

Gas yang sudah kehilangan molekul H2S-nya akan terus naik sampai ke puncak menara. Sebelum keluar, gas ini biasanya melewati Mist Eliminator (penyaring kabut) untuk memastikan tidak ada butiran cairan Amine yang ikut terbawa keluar. Gas inilah yang kita sebut Sweet Gas, yang sudah aman masuk ke pipa transmisi atau menjadi bahan bakar engine CAT G3306 kita di lapangan.

5. Keluarnya Rich Amine (Cairan Kotor)

Di dasar menara, cairan Amine yang tadi turun sekarang sudah "kenyang" karena membawa muatan H2S. Cairan ini sekarang berubah status menjadi Rich Amine. Cairan inilah yang kemudian dikirim ke unit Regenerator untuk dipanaskan, dibuang racunnya, dan diputar kembali menjadi Lean Amine.

Kalau di dunia mesin kita kenal piston ring, di dalam H2S Absorber tipe Packed Column, kita kenal yang namanya Pall Ring. Ini bukan sekadar potongan pipa besi, tapi komponen kunci yang menentukan efisiensi penyerapan gas beracun.

Berikut adalah ulasan teknis mengenai Pall Ring untuk blog Dhevils Mechanic:


Mengenal Pall Ring: "Garda Terdepan" di Dalam H2S Absorber

Sobat Mekanik, jika Anda berkesempatan melakukan internal inspection pada bejana H2S Absorber, Anda mungkin akan melihat ribuan benda berbentuk silinder kecil yang berlubang-lubang memenuhi bagian tengah bejana. Benda itu disebut Pall Ring.

Kenapa tidak dibiarkan kosong saja? Kenapa harus diisi benda-benda kecil ini? Mari kita bedah fungsinya.

1. Apa itu Pall Ring?

Pall Ring adalah salah satu tipe random packing yang merupakan pengembangan dari Rasching Ring. Bentuknya silinder dengan dinding yang dilubangi dan memiliki "lidah-lidah" yang melengkung ke arah dalam.

Di lapangan migas, Pall Ring biasanya terbuat dari Stainless Steel (SS316L) agar tahan terhadap korosi asam H2S, atau terkadang dari plastik polimer khusus untuk aplikasi suhu rendah.

2. Fungsi Utama Pall Ring: Memperluas Area Kontak

Fungsi utama Pall Ring adalah sebagai media kontak. Ingat prinsip kerja Absorber: Gas naik ke atas, Amine turun ke bawah.

  • Tanpa Pall Ring: Amine akan jatuh begitu saja ke bawah (seperti air terjun), dan gas akan naik terlalu cepat. Kontak antara keduanya sangat minim.

  • Dengan Pall Ring: Amine yang turun akan menabrak ribuan Pall Ring ini, pecah menjadi butiran kecil, dan mengalir perlahan di permukaan ring (membentuk lapisan film). Di saat yang sama, gas yang naik dipaksa berbelok-belok melewati rongga-rongga ring. Inilah yang menciptakan waktu kontak (residence time) yang lama sehingga H2S sempat terserap maksimal oleh Amine.

3. Mengapa Harus Ada Lubang dan "Lidah" di Dalamnya?

Desain Pall Ring yang berlubang (window) bertujuan untuk:

  • Mencegah "Channeling": Agar cairan Amine tidak hanya mengalir di satu sisi dinding bejana saja, tapi terdistribusi merata ke seluruh ruang tengah.

  • Menurunkan Pressure Drop: Lubang-lubang tersebut memungkinkan gas mengalir dengan hambatan yang minim. Jika hambatannya terlalu besar, tekanan gas akan drop drastis dan mengganggu aliran produksi.

4. Masalah Mekanik: Kapan Pall Ring Harus Dibersihkan?

Sebagai Dhevils Mechanic, kita harus waspada jika terjadi gejala berikut:

  1. High Differential Pressure (DP): Jika tekanan di bagian bawah jauh lebih tinggi dari atas, itu tanda Pall Ring sudah tersumbat oleh kotoran, lumpur (sludge), atau produk korosi.

  2. Amine Carryover: Jika Pall Ring kotor, Amine tidak bisa turun dengan lancar dan malah "tertiup" ke atas bersama gas menuju scrubber atau engine.


Tips Inspeksi ala Dhevils Mechanic:

Saat turnaround atau cleaning vessel, pastikan tumpukan Pall Ring tidak "ambles" atau hancur. Jika Pall Ring sudah banyak yang penyok atau berkarat, performa penyerapan H2S akan turun drastis, dan hasilnya? Gas yang keluar tetap "bau telur busuk" alias tetap mengandung H2S tinggi.


Pesan Penutup:

"Pall Ring mungkin terlihat seperti sampah besi di dalam tangki, tapi tanpa desain 'lidah' dan 'jendela'-nya, Amine kita tidak akan pernah bisa menangkap H2S dengan sempurna. Detail kecil, fungsi besar!"


Poin Penting untuk Pemeliharaan (Mekanik Point):

Sebagai tim pemeliharaan, ada beberapa hal yang harus kita waspadai pada unit Absorber ini:

  • Foaming (Pembusaan): Jika ada kontaminan (seperti oli mesin yang terbawa atau kotoran kondensat), Amine bisa berbusa. Jika berbusa, proses penyerapan gagal dan Amine bisa ikut tersembur keluar bersama gas (Amine Carryover).

  • Differential Pressure (DP): Selalu pantau tekanan antara bagian bawah dan atas menara. Jika DP tinggi, berarti ada sumbatan pada Tray atau Packing di dalam menara.

  • Corrosion: Karena H2S terkumpul di bagian bawah menara, area bottom absorber sangat rawan terkena korosi. Pengecekan ketebalan dinding (Thickness Test) secara berkala adalah harga mati.


Pesan Dhevils Mechanic:

"Menjaga H2S Absorber tetap sehat berarti menjaga seluruh peralatan hilir kita. Tanpa absorber yang baik, engine dan pompa kita hanya tinggal menunggu waktu untuk hancur dimakan karat."


Penutup: Pesan Keselamatan dari Dhevils Mechanic

Sobat Mekanik, bekerja di area penyerapan H2S butuh kewaspadaan ekstra. Selalu pastikan H2S Detector Anda aktif dan terkalibrasi. Jangan pernah meremehkan bau telur busuk, karena pada konsentrasi tinggi, H2S justru akan melumpuhkan indra penciuman kita sebelum ia melumpuhkan sistem pernapasan.

Ingat: Mesin bisa diperbaiki, nyawa tidak ada suku cadangnya.


Salam Safety & Putaran Stabil, Dwi Hardi – Sang Dhevils Mechanic


Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...