Skip to main content

Bedah Alur Proses CPP Gundih: Perjalanan Gas "Asam" Menjadi Sales Gas

 Halo sobat Dhevils Mechanic! Kali ini kita bakal main agak jauh ke area Blora, tepatnya ke CPP Gundih. Buat kalian yang main di dunia gas, pasti tahu kalau gas dari lapangan Gundih (Blok Kedung Tuban, Randublatung, dan sekitarnya) itu bukan gas sembarangan. Ini adalah gas "galak" karena kandungan H{S(Asam Sulfida) dan CO{2}-nya yang tinggi.

Penasaran gimana cara "menjinakkan" gas ini? Yuk, kita telusuri jalurnya satu per satu!


1. Dari Sumur ke Header Manifold (The Gathering)

Perjalanan dimulai dari kepala sumur (wellhead). Gas dari perut bumi dialirkan melalui pipa Flowline. Karena gasnya bersifat korosif (H_2}S tinggi), material pipanya nggak main-main, biasanya pakai material khusus atau disuntikkan corrosion inhibitor biar pipa nggak keropos dimakan usia.

Semua flowline dari berbagai sumur ini berkumpul di satu titik yang namanya Header Manifold. Di sini, aliran gas disatukan sebelum masuk ke "pabrik" pengolahan utama.

2. Separator: Memisahkan yang Bukan Jodohnya

Setelah dari manifold, gas masuk ke Inlet Separator. Di sini hukum gravitasi bekerja. Gas yang ringan naik ke atas, sedangkan cairan (air kondensat dan minyak) bakal turun ke bawah.

  • Kenapa penting? Karena peralatan di hilir (downstream) seperti kompresor dan absorber nggak suka "minum" cairan. Cairan bisa bikin kerusakan fatal.

3. Acid Gas Removal Unit (AGRU): Operasi "Mandikan" Gas

Inilah jantungnya CPP Gundih. Gas dari separator masih mengandung H{2}S dan CO{2} yang tinggi (disebut Sour Gas). Di unit AGRU, gas ini dipertemukan dengan cairan Amine (MDEA) di dalam tower Absorber.

  • Prosesnya: Amine bakal menangkap H{2}S dan CO{2} secara kimiawi.

  • Hasilnya: Gas yang keluar dari atas tower sudah bersih dari kandungan asam (disebut Sweet Gas).

1. Absorber Tower (Kontak Pertama)

Gas yang sudah bersih dari cairan di Inlet Separator masuk ke tower raksasa ini dari bagian bawah (Bottom). Sementara itu, cairan Amine yang "lapar" (Lean Amine) masuk dari bagian atas (Top).

  • Internal Tower: Di dalamnya ada banyak Tray atau Packing. Fungsinya supaya gas dan Amine tabrakan sesering mungkin.

  • Reaksi Kimia: Saat gas naik ke atas, molekul H2S dan CO2 akan "dicaplok" oleh Amine. Karena MDEA di Gundih biasanya diformulasikan khusus (sering disebut Accelerated MDEA), dia bisa menangkap CO2 dengan cepat meskipun MDEA murni aslinya agak lambat menyerap CO2 dibanding H2S.

  • Output: Gas yang keluar dari atas tower sudah jadi Sweet Gas (kandungan H2S < 4 ppm dan CO2 < 3% sesuai standar sales gas).

2. Flash Drum (Melepas Tekanan)

Amine yang sudah kenyang membawa gas asam (disebut Rich Amine) keluar dari bawah Absorber. Tapi sebelum dibersihkan, dia mampir dulu ke Rich Amine Flash Drum.

  • Fungsinya: Di sini tekanannya diturunkan. Gas-gas hidrokarbon (metana dll) yang tidak sengaja ikut terlarut di dalam Amine akan menguap (flash) dan dipisahkan. Ini penting supaya gas berharga nggak ikut terbuang di unit pembuangan gas asam.

3. Lean/Rich Exchanger (Pre-Heating)

Ini adalah alat penghemat energi. Rich Amine yang dingin (dari Absorber) akan berpapasan dengan Lean Amine yang panas (dari Stripper).

  • Rich Amine jadi lebih hangat (siap untuk dimasak).

  • Lean Amine jadi lebih dingin (siap untuk dikirim balik ke Absorber).

4. Stripper Tower & Reboiler (Proses Pembersihan)

Inilah tempat Amine "dicuci" agar bisa dipakai lagi. Rich Amine masuk ke Stripper Tower.

  • Reboiler: Di bagian bawah Stripper, ada reboiler yang memanaskan Amine menggunakan Steam (uap panas). Amine dipanaskan sampai titik didihnya (sekitar 110-120°C).

  • Pelepasan Gas Asam: Panas ini memutus ikatan kimia antara Amine dengan H2S/CO2. Gas asam tadi akan naik ke atas dan keluar sebagai Acid Gas, yang kemudian di CPP Gundih dikirim ke unit SRU (Sulfur Recovery Unit) untuk diubah jadi belerang padat.

  • Amine yang sudah bersih (Lean Amine) terkumpul di bawah.

5. Filtration Unit (Menjaga Kebersihan)

Ini yang sering disepelekan tapi vital di CPP Gundih. Sebelum Lean Amine balik ke Absorber, dia harus lewat filtrasi:

  • Mechanical Filter: Menangkap partikel padat (karat pipa, debu).

  • Carbon Filter: Menyerap kontaminan kimia seperti oli atau degradasi amine yang bisa bikin Foaming.


Rahasia Dapur AGRU Gundih: Kenapa Sering "Rewel"?

Mas Bro, kalau di blog Dhevils Mechanic, poin-poin ini biasanya yang dicari para field engineer:

  1. H2S vs CO2 Selectivity: Di Gundih, tantangannya adalah menjaga agar Amine tidak terlalu cepat jenuh oleh CO2 sehingga masih punya sisa "tenaga" buat menangkap H2S yang sangat beracun.

  2. Amine Concentration: Kadar air dalam larutan MDEA harus dijaga (biasanya sekitar 45-50% Amine). Kalau terlalu pekat, Amine jadi korosif; kalau terlalu encer, daya serapnya loyo.

  3. Temperature Control: Suhu Lean Amine yang masuk ke Absorber harus sekitar 5°C lebih panas dari suhu gas masuk. Kenapa? Biar hidrokarbon di dalam gas nggak mengembun (kondensasi). Kalau gas mengembun di dalam Amine, langsung terjadi Foaming hebat!



4. Dehydration Unit (DHU): Biar Gas Nggak "Lembap"

Gas yang sudah bersih dari H{2}S ternyata masih membawa uap air dari proses pemandian di Amine tadi. Kalau uap air ini dibiarkan, bisa muncul hydrate (es yang menyumbat pipa) atau korosi di jalur pipa distribusi.

Di CPP Gundih, unit DHU menggunakan cairan TEG (Triethylene Glycol). Kenapa TEG? Karena dia punya daya serap air yang sangat kuat, stabil pada suhu tinggi, dan penguapannya rendah.

1. Glycol Contactor (Tower Pengering)

Gas dari AGRU masuk ke bagian bawah tower Contactor. Di saat yang sama, Lean Glycol (Glycol murni yang sudah kering) disemprotkan dari atas tower.

  • Prosesnya: Sama seperti di AGRU, di sini terjadi kontak antara gas dan cairan. TEG akan menyerap molekul air yang terbawa di dalam gas.

  • Dry Gas: Gas yang keluar dari atas tower sudah kering kerontang (memenuhi standar Water Dew Point untuk sales gas) dan siap dikirim ke konsumen.

2. Proses Regenerasi: Masak Glycol!

Glycol yang keluar dari bawah tower sekarang statusnya Rich Glycol (Glycol "basah" karena penuh air). Karena harga TEG itu mahal, kita nggak buang cairannya, tapi kita keringkan lagi di unit Regeneration Package:

  • Flash Drum: Rich Glycol masuk ke sini dulu untuk membuang sisa-sisa gas yang terjebak.

  • Glycol/Glycol Exchanger: Pemanasan awal agar energi tidak terbuang percuma.

  • Reboiler & Still Column: Inilah dapur utamanya. Glycol dimasak pada suhu sekitar 180°C - 200°C. Karena titik didih air (100°C) jauh lebih rendah daripada TEG (285°C), maka air akan menguap keluar lewat Still Column, sementara TEG tetap dalam bentuk cair dan menjadi bersih kembali (Lean Glycol).


Kendala "Nyeleneh" di Unit DHU (Tips ala Mechanic)

Buat sobat Dhevils Mechanic, biasanya di lapangan kita sering ketemu masalah begini:

  • Glycol Losses (Tekor): Tiba-tiba level TEG di tangki turun drastis. Penyebabnya bisa karena foaming atau sirkulasi gas terlalu kencang sehingga TEG ikut "terbang" terbawa ke jalur sales gas.

  • Overheating di Reboiler: Kalau suhu masak terlalu tinggi (lewat 206°C), TEG bisa rusak (degradasi). Cirinya, warna Glycol berubah jadi hitam pekat seperti oli bekas dan baunya menyengat. Kalau sudah begini, daya serap airnya pasti drop.

  • Burner Mati: Di Gundih, Reboiler biasanya pakai sistem fire tube. Kalau suplai fuel gas kotor atau sistem kontrol mati, api padam, suhu turun, dan gas yang keluar DHU jadi basah lagi.



Jalur Sales Gas: Final Destination

Setelah lewat DHU, gas yang sudah Sweet (dari AGRU) dan Dry (dari DHU) masuk ke:

  1. Gas Metering: Diukur volumenya (biasanya dalam satuan MMSCFD) untuk keperluan transaksi bisnis.

  2. Gas Sales Line: Dialirkan melalui pipa transmisi menuju konsumen utama, yaitu PLTGU Tambak Lorok di Semarang.

Di DHU, gas dilewatkan ke cairan TEG (Triethylene Glycol). Glycol ini sifatnya haus banget sama air (higroskopis). Air diserap habis, dan keluarlah gas yang benar-benar kering.

5. Jalur Sales Gas: Siap Jadi Duit!

Setelah bersih dari racun ($H_{2}S$), bersih dari karat ($CO_{2}$), dan sudah kering (bebas air), gas ini sudah memenuhi spek jualan. Gas kemudian masuk ke unit Metering untuk dihitung volumenya secara akurat, lalu dialirkan melalui pipa transmisi menuju konsumen (seperti pembangkit listrik PLTGU Tambak Lorok).

6. Bonus: Pengolahan Belerang (SRU)

Hayo, $H_{2}S$ yang ditangkap Amine tadi dikemanakan? Di CPP Gundih, gas beracun itu nggak dibuang ke udara, tapi diolah di Sulfur Recovery Unit (SRU) dengan proses Biological Sulfur Recovery (menggunakan bakteri). $H_{2}S$ diubah menjadi butiran belerang padat yang punya nilai ekonomis. Keren, kan?


Kendala Lapangan yang Sering Muncul

Sebagai orang lapangan, kita harus waspada sama:

  • Carry Over: Cairan Amine atau Glycol yang ikut terbawa gas karena tekanan atau flow yang nggak stabil.

  • H2S Breakthrough: Kandungan $H_{2}S$ di outlet tiba-tiba naik karena performa Amine yang menurun (perlu regenerasi total).

  • Solid Deposit: Endapan belerang yang bisa menyumbat peralatan kalau suhu nggak terjaga.


Sumber Literasi & Referensi:

Tulisan ini dirangkum dari berbagai literatur teknis dan operasional migas, di antaranya:

  1. Laporan Tahunan & Publikasi Teknis PT Pertamina EP: Terkait profil CPP Gundih dan kapasitas produksinya.

  2. SOP Operasional Gas Processing Plant: Prinsip dasar kerja Absorber, Stripper, dan DHU.

  3. Journal of Natural Gas Science and Engineering: Mengenai efektivitas MDEA dalam penyerapan gas asam.

  4. Paparan Teknologi Bio-Sulfur: Referensi khusus mengenai pengolahan belerang ramah lingkungan di Gundih.

  5. Gas Conditioning and Processing (John M. Campbell) - Kitab sucinya orang gas.

  6. GPSA Engineering Data Book - Referensi standar perhitungan alat proses migas.

  7. Technical Manual PT Pertamina EP - Terkait konfigurasi spesifik AGRU di CPP Gundih.

  8. tudi Kasus Biological Sulfur Recovery di Gundih - Terkait integrasi AGRU dengan unit pengolahan belerang.

Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...