Skip to main content

Mengintip "Dapur" Pemurnian Gas Alam: Bagaimana CO2 Plant Bekerja?

 

Halo sobat mekanik! Pernah nggak terpikir, gas alam yang keluar dari perut bumi itu nggak langsung "bersih"? Di dalamnya masih banyak "pengotor" yang kalau dibiarkan bisa bikin pipa korosi atau menurunkan kualitas gas. Salah satu musuh utamanya adalah CO2 (Karbon Dioksida).

Nah, di artikel kali ini, kita bakal bahas gimana cara membuang CO2 ini menggunakan sistem Amine Unit dengan pelarut andalan kita: MDEA (Methyl Diethanolamine). Yuk, kita bongkar prosesnya!


Kenapa Harus Amine MDEA?

Sebenarnya banyak jenis cairan Amine, tapi MDEA jadi favorit di industri karena dia sangat selektif menyerap CO2, lebih hemat energi saat dipanaskan kembali (regenerasi), dan tingkat korosinya cenderung lebih rendah dibanding saudara-saudaranya seperti MEA atau DEA.

1. Proses Penyerapan: Si Magnet CO2

Bayangkan ada sebuah tower tinggi bernama Absorber (atau Main Washer). Di sinilah "perjodohan" terjadi.

  • Gas Kotor (Sour Gas) masuk dari bawah tower.

  • MDEA Cair (Lean Amine) disemprotkan dari atas tower.

Di dalam tower ini ada tray atau packing yang fungsinya memperluas bidang kontak. Saat gas naik dan cairan turun, MDEA bakal bertindak seperti magnet yang menangkap molekul CO2.

Secara kimiawi, CO2 bereaksi dengan MDEA membentuk ikatan sementara. Gas yang keluar dari atas tower sekarang sudah bersih (disebut Sweet Gas), sedangkan MDEA yang sudah kenyang makan CO2 keluar dari bawah tower (disebut Rich Amine).


2. Proses Regenerasi: Melepas "Beban" CO2

MDEA yang sudah "kenyang" (Rich Amine) tadi nggak bisa dipakai lagi kalau nggak dibersihkan. Makanya, kita kirim ke Stripper Tower atau Regenerator.

  • Prinsipnya sederhana: CO2 dilepas dengan cara dipanaskan.

  • Rich Amine dipanaskan di Reboiler sampai mendidih. Uap panas yang dihasilkan bakal naik ke atas Stripper dan "mengusir" CO2 keluar dari cairan MDEA.

  • CO2 yang terlepas akan dibuang ke atas (atau diolah lagi), dan MDEA yang sudah bersih (Lean Amine) dikembalikan lagi ke Absorber. Begitu terus muter-muter (sirkulasi).


Kendala yang Sering Bikin Pusing di CO2 Plant

Namanya juga mesin, pasti ada masanya "rewel". Di CO2 Plant, ada beberapa penyakit langganan yang sering bikin operator dan mekanik putar otak:

1. Masalah Klasik: Foaming (Berbusa)

Ini musuh nomor satu! Foaming terjadi kalau cairan Amine terkontaminasi (misal oleh oli, partikel padat, atau hidrokarbon cair). Akibatnya, Amine jadi berbusa seperti sabun.

  • Efeknya: Tekanan di tower jadi nggak stabil (differential pressure naik drastis) dan Amine ikut terbawa keluar bersama gas (carry over).

  • Solusinya: Injeksi Anti-foam dan pastikan filtrasi (Carbon Filter) bekerja maksimal.

2. Low Temperature pada Reboiler

Ingat, kunci melepas CO2 adalah panas. Kalau temperatur Reboiler turun:

  • Penyebabnya: Bisa jadi suplai steam kurang atau heat exchanger sudah kotor (fouling).

  • Efeknya: CO2 nggak terlepas sempurna dari MDEA. Hasilnya, saat MDEA balik ke Absorber, dia nggak bisa nyerap CO2 lagi dengan maksimal. Gas hasil produksi pun jadi nggak standar.

3. Low Level di Scrubber / Separator

Sebelum gas masuk ke tower Amine, dia harus lewat Inlet Scrubber buat memisahkan cairan (kondensat/air).

  • Masalah: Kalau level di scrubber terlalu rendah karena masalah control valve atau transmitter, ada risiko gas bocor ke jalur cairan. Tapi yang lebih bahaya kalau High Level, karena cairan bisa masuk ke tower Amine dan memicu foaming hebat.

4. Amine Losses (Amine Berkurang Drastis)

Tiba-tiba level di tangki penampung Amine turun terus. Biasanya ini karena carry over di atas Absorber akibat foaming atau kecepatan gas yang terlalu tinggi, sehingga butiran Amine terbang ikut gas.


Kesimpulan

Mengelola CO2 Plant itu seni menyeimbangkan kimia dan mekanikal. Kita harus jaga kebersihan Amine dari kontaminan, jaga suhu "masakan" di Reboiler, dan pastikan sirkulasi lancar tanpa busa.

Kalau MDEA sehat, gas yang dihasilkan pun mantap!


Penulis: [Dwie Hardi/Dhevils Mechanic] Semoga artikel ini bermanfaat buat sobat mekanik semua. Ada pertanyaan atau pengalaman unik saat menangani CO2 Plant? Tulis di kolom komentar ya!

Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...