Skip to main content

Menilik Sistem Kontrol Gas Turbine OPRA OP13 di Offshore Platform

 

Halo sobat Dhevils Mechanic! Senang sekali bisa berbagi nostalgia sekaligus ilmu teknis di sini. Pengalaman bekerja di offshore platform selalu punya cerita tersendiri, terutama saat berhadapan dengan unit pembangkit yang krusial seperti Gas Turbine Generator (GTG).

Kali ini, saya akan mengulas tuntas tentang sistem kontrol pada Gas Turbine OPRA OP16 (sering juga dirujuk dalam seri OP16-13) yang pernah saya tangani. Mari kita bedah bagaimana "otak" dari turbin radial ini bekerja di tengah laut.

Membahas OPRA OP13 membawa kita pada desain turbin yang sangat unik dan ikonik di dunia industri energi, terutama untuk aplikasi heavy-duty di ladang minyak dan gas.

Meskipun saat ini seri yang lebih populer adalah OP16, seri OP13 adalah pendahulu yang meletakkan dasar reputasi OPRA sebagai produsen turbin radial yang tangguh.

Berikut adalah beberapa poin kunci yang membuat OP13 istimewa bagi seorang mekanik:

1. Desain All-Radial (Fitur Utama)

Berbeda dengan turbin gas besar (seperti Solar atau GE) yang menggunakan desain axial flow (banyak deretan bilah kipas), OP13 menggunakan teknologi All-Radial.

  • Single Stage: Ia hanya memiliki satu roda kompresor radial dan satu roda turbin radial.

  • Keuntungan: Desain ini membuat mesin jauh lebih pendek, kompak, dan memiliki jumlah komponen yang jauh lebih sedikit. Bagi kita di offshore, ini artinya perawatan lebih simpel dan risiko kerusakan mekanis lebih rendah.

2. Kemampuan Multi-Fuel (Sangat Toleran)

Salah satu alasan kenapa OP13 sering dipasang di platform offshore adalah "perutnya" yang kuat.
  • Turbin ini bisa membakar gas dengan kualitas rendah (low BTU), gas yang mengandung $H_2S$ tinggi (sour gas), hingga bahan bakar cair.

  • Di offshore, seringkali gas yang dihasilkan dari sumur tidak murni. OP13 didesain untuk tahan terhadap variasi kualitas bahan bakar tersebut tanpa sering mengalami clogging atau korosi dini.

3. Karakteristik Operasional

  •  

  • Output Daya: Sesuai namanya, seri ini berada di kisaran 1.3 MW hingga 1.5 MW. Sangat pas untuk beban dasar (base load) di platform satelit atau sebagai penyokong sistem essential.

  • High Exhaust Temperature: Karena desain radialnya, suhu gas buang (exhaust) cenderung tinggi. Di banyak tempat, panas ini tidak dibuang percuma, melainkan dimanfaatkan kembali menggunakan WHRU (Waste Heat Recovery Unit) untuk memanaskan proses produksi di platform.

4. Bearing dan Pelumasan

OP13 menggunakan film-lubricated bearings yang diletakkan di sisi dingin mesin (dekat kompresor). Ini adalah keuntungan besar karena bearing tidak terpapar langsung oleh panas ekstrim dari sisi turbin, sehingga umur pakai oli lebih panjang dan risiko kegagalan bearing akibat panas (coking) sangat minim.

5. Mengapa Kini Jarang Terdengar?

OPRA kemudian melakukan improvisasi besar-besaran dan meluncurkan seri OP16. Hampir semua unit OP13 yang ada di lapangan mendapatkan upgrade atau digantikan oleh OP16 karena:
  • Efisiensi yang lebih tinggi.

  • Emisi gas buang yang lebih rendah (sesuai standar lingkungan terbaru).

  • Output daya yang lebih besar (naik ke arah 1.8 MW - 2 MW) dengan dimensi fisik yang hampir sama.

Catatan Dhevils Mechanic:

  

Kalau sobat menemukan unit OP13 di lapangan, itu adalah "kuda beban" sejati. Mesinnya simpel, suaranya khas (high pitch whine), dan kalau sistem kontrol PLC-nya sudah terintegrasi dengan baik ke SCADA seperti yang saya ceritakan sebelumnya, unit ini sangat jarang rewel kecuali masalah sensor atau kualitas bahan bakar yang benar-benar kotor.


Menilik Sistem Kontrol Gas Turbine OPRA OP13 di Offshore Platform


 di platform lepas pantai menuntut keandalan sistem yang tinggi. Unit OPRA dikenal karena desain turbin radialnya yang kompak dan tangguh. Namun, ketangguhan mekanisnya tidak akan berarti tanpa sistem kontrol yang presisi.

1. Arsitektur Kontrol: PLC dan Integrasi SCADA

Sistem kontrol pada unit OPRA biasanya berbasis PLC (Programmable Logic Controller)—seringkali menggunakan vendor seperti Rockwell Automation (Allen-Bradley) atau Siemens, tergantung pada packaging unitnya.

  • Fungsi PLC: Mengatur seluruh sekuens mulai dari purging, cranking, ignition, hingga synchronizing. PLC mengolah data dari berbagai sensor (suhu, tekanan, vibrasi) secara real-time.

  • Akses SCADA Jarak Jauh: Salah satu kecanggihan instalasi kami dulu adalah integrasi via protokol komunikasi (seperti Modbus TCP/IP atau Ethernet/IP). Operator di Central Control Room (CCR) yang berada di platform berbeda tetap bisa memantau parameter krusial tanpa harus terbang ke platform satelit.

2. Apa Saja yang Dikontrol?

Sistem kontrol pada OPRA OP16 mencakup beberapa aspek vital:
  • Fuel Control (Governor): Mengatur bukaan fuel valve untuk menjaga kecepatan putaran (RPM) tetap stabil meskipun beban listrik (load) berubah-ubah.

  • Start-up Sequence: Memastikan motor starter memutar turbin hingga mencapai self-sustaining speed.

  • Protection System: Ini adalah bagian paling kritis. PLC akan memerintahkan Emergency Shut Down (ESD) jika parameter melampaui batas aman.

  • Lubrication System: Mengatur pompa oli sebelum dan sesudah turbin beroperasi guna menjaga suhu bearing.


Alarm yang Sering Muncul dan Troubleshooting

Di lapangan, tidak semua hari berjalan mulus. Berdasarkan pengalaman saya di offshore, berikut adalah daftar "langganan" alarm dan cara mengatasinya:

 

A. High Exhaust Gas Temperature (EGT)

Ini adalah alarm yang paling sering bikin senam jantung.

  • Penyebab: Masalah pada suplai bahan bakar, filter udara masuk yang kotor, atau kerusakan pada thermocouple.

  • Troubleshoot: Cek perbedaan (differential) suhu antar thermocouple. Jika hanya satu yang melompat tinggi, kemungkinan besar itu sensor yang rusak (faulty sensor). Jika semua naik, cek sistem pembakaran.

B. Vibration High

Khas untuk mesin rotasi tinggi.

  • Penyebab: Unbalance pada rotor, masalah pada bearing, atau adanya misalignment antara turbin dan generator.

  • Troubleshoot: Lakukan pembersihan pada bilah turbin (jika memungkinkan) atau cek kondisi oli pelumas. Terkadang, deposit karbon pada turbin radial bisa menyebabkan vibrasi.

C. Fail to Ignite (Gagal Start)

  • Penyebab: Tekanan gas (fuel gas pressure) terlalu rendah atau sistem pemantik (igniter) kotor/lemah.

  • Troubleshoot: Pastikan gas scrubber di platform bekerja optimal sehingga gas yang masuk ke turbin kering (tidak membawa cairan). Bersihkan ujung igniter dari jelaga.


Tips Maintenance untuk Engineer Offshore

  1. Kebersihan Filter Udara: Lingkungan laut sangat korosif dan lembap. Garam bisa menumpuk di filter udara dan menyebabkan penurunan performa serta meningkatkan risiko korosi pada bilah turbin.

  2. Monitoring Komunikasi SCADA: Pastikan link komunikasi antar platform stabil. Putusnya data seringkali dianggap sebagai alarm "Critical" oleh sistem pengawas.

  3. Kalibrasi Rutin: Jangan abaikan kalibrasi pada Pressure Transmitter dan Temperature Transmitter. Akurasi data adalah kunci troubleshooting yang cepat.


Kesimpulan Mengelola Gas Turbine OPRA di offshore platform adalah perpaduan antara pemahaman mekanis yang kuat dan penguasaan sistem kontrol PLC. Dengan integrasi SCADA, pekerjaan kita memang dipermudah, namun insting seorang mechanic tetap menjadi penentu saat terjadi unplanned shutdown.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan teknisi yang sedang berjuang di tengah laut! Jika ada pertanyaan seputar OPRA atau sistem kontrol turbin lainnya, silakan tulis di kolom komentar.

Salam Olah Oli, Dhevils Mechanic


Keywords: Dhevils Mechanic, Gas Turbine OPRA, OP16, OP13, Control System, PLC, SCADA, Offshore Platform, Troubleshooting Turbin, Maintenance Gas Turbine.

Postingan Populer

Kunci Inch dengan Kunci mm Dalam Dunia Mechanic

  Jika kita bekerja sebagai mechanic, toolkit adalah senjata kita dalam menyeleseikan suatu pekerjaan. karena dengan kelengkapan toolkit menurut saya 45% pekerjaan / troubleshoot dapat terpecahkan. Dan sebagai mekanik kita kadang menemukan ukuran bolt / nut yang berbeda - beda, ada ukuran dalam inchi, ada pula yang dalam ukuran mili meter. Seandainya kita paksakan mengunakan ukuran kunci tertentu, jutru tidak akan menyeleseikan masalah, tetapi malah menambah pekerjaan lainnya karena bolt atau nut yang kan kita kendorin akan slek atau rusak sehingga semakin sulit unitiuk kita lepaskan. atau bakan kunci yang kita gunakan akan rusak, dan hal ini elain menyusahkan waktu kita kerja juga akan menyusahkan di lain hari karena kita harus membeli kunci baru yang tidak murah harganya. Baca juga : Kehidupan di Offshore Platform  Fungsi Air Dryer Pada Air Compressor Korelasi Komposisi Gas dengan Air Fuel Ratio Perbedaan Prosedure Pembelian Gas Engine Dan Diesel Engine ...

Teory Pompa Kerja Pararel dan Pompa Kerja Seri

Pompa dapat kita pasang atau operasikan pararel atau seri, jika kita ingin menaikan qapasitas, pompa akan kita operasikan Pararel, dengan syarat Head pompa sama. Sedangkan jika kita ingin meanikan Head/ tekanan discharger pompa, kita dapat mengoperasikannya secara seri dan syartnya pompa ke 2 harus lebih rendah qapasitasnya, sebab jika sama maka akan ada kapitasi. Pompa pertama kita sebut pompa pengirim atau pompa utama, sementara pompa ke 2 kita sebut sebagi pompa Booster atau pompa peningkat tekanan. Dalam mendesain (pararel/series) pompa, jumlah 2 atau lebih pompa sentrifugal disebut dengan multiple centrifugal pump. Dalam mendesain multiple centrifugal pump ini utamanya adalah ketika melakukan instalasi,  sangatlah penting untuk memperhatikan hubungan antara kurva pompa (pump curve) dan kurva sistem perpipaan. (piping system curve). Efek dari menambahkan 2 buah pompa yang identik dalam rangkaian paralel dapat di lihat pada gambar grafik di bawah ini. Baca ...

Cara Leak Test (test kebocoran) dan Hydrotest pada Valve dan Bejana Tekan

Leak Test : Biasanya ini dilakukan pada reinforcing pad of opening, menggunakan udara. Kadang-kadang di-counter check dengan bubble soap. Sehingga sering disebut juga bubble test. Diaplikasikan pada semua peralatan yang mempunyai pads pada bagian pressure (PV, HE, Tank, dll). Bisa juga leak test dilakukan tanpa sabun. Material diinjeksi dengan udara bertekanan dan direndam dalam tanki air untuk beberapa waktu (digunakan dalam pengetesan fuel tank untuk forklift). Ini lebih efektif dibandingkan dengan sabun. Test ini juga dilakukan untuk pengecekan kebocaran pada blinded flange, flange joint (shell side to tube side joint), channel cover installation, dsb. Secara internal, diberi tekanan menggunakan udara – alternatif lain bisa menggunakan nitrogen (N 2 ). Pada tangki ada juga istilah leak test untuk roof dan bottom installation. Alatnya disebut Vacuum Box. Leak test tidak sama persis dengan pneumatic test. Pneumatic test itu bisa digunakan sebagai pengganti hydrotes...