Halo sobat Dhevils Mechanic! Kalau kemarin kita sudah main ke Jawa Tengah, sekarang kita mampir ke Jawa Barat, tepatnya ke area operasional PT Pertamina EP Field Subang.
Di sini ada satu fasilitas yang keren banget dan punya sejarah panjang dalam menjaga lingkungan sekaligus nambah cuan perusahaan, yaitu CO2 Plant Subang. Yuk, kita bongkar sejarah dan bagaimana cara kerjanya!
Sejarah Singkat: Solusi untuk Gas "Sampah"
Dulu, gas alam dari lapangan Subang (seperti dari Lapangan Cilamaya atau Subang sendiri) punya masalah klasik: kandungan CO2-nya sangat tinggi (bisa mencapai 20% lebih). Kalau gas ini mau dijual ke industri atau PLN, CO2-nya harus dibuang karena menurunkan nilai kalor gas dan bikin korosi di pipa.
Awalnya, CO2 ini cuma dianggap "sampah" dan dibuang begitu saja ke atmosfer melalui flare atau vent. Tapi, Pertamina EP melihat peluang. Daripada dibuang dan merusak lingkungan (efek rumah kaca), kenapa nggak ditangkap dan dimurnikan?
Akhirnya, dibangunlah CO2 Plant di Subang. Tujuannya dua:
Memurnikan Gas Alam agar layak jual ke konsumen industri.
Memproduksi CO2 Cair murni (food grade/industrial grade) yang bisa dijual ke pabrik minuman berkarbonasi, pengelasan, hingga industri makanan.
Rahasia Dapur: Flow Proses Penyerapan CO2 (AGRU System)
Di Subang, proses "menangkap" CO2 ini menggunakan teknologi yang mirip dengan di Gundih, yaitu Acid Gas Removal Unit (AGRU) dengan larutan kimia sakti bernama Amine (biasanya jenis MDEA atau formulasi khusus).
Begini alur ceritanya:
1. Masuk ke Tower "Pemandian" (Absorber)
Gas alam mentah dari sumur masuk ke bagian bawah tower Absorber. Dari atas, disemprotkan cairan Lean Amine. Di sinilah mereka "kenalan". Amine punya sifat seperti magnet yang cuma mau nempel sama CO2.
Gas yang sudah bersih dari CO2 akan keluar lewat atas tower (siap dikirim ke jalur penjualan), sedangkan Amine yang sudah "kenyang" membawa CO2 (disebut Rich Amine) keluar dari bawah.
2. Melepas Beban (Stripper)
Rich Amine tadi nggak bisa dipakai lagi kalau nggak "dicuci". Caranya? Dipanaskan! Amine dibawa ke tower Stripper dan dimasak di Reboiler. Karena suhu panas, ikatan antara Amine dan CO2 putus. CO2-nya lepas ke atas, Amine-nya jadi bersih lagi (Lean Amine) dan siap diputar balik ke tower Absorber.
3. Tahap Pemurnian CO2 (Purification & Liquefaction)
Nah, ini bedanya CO2 Plant Subang dengan unit pembersihan biasa. CO2 yang lepas dari Stripper nggak dibuang ke udara, tapi ditangkap lagi untuk diproses:
Scrubbing & Filtering: Dibersihkan dari sisa-sisa bau atau senyawa sulfur.
Compression: Gas CO2 ditekan menggunakan kompresor bertingkat.
Dehydration: Dikeringkan sampai benar-benar bebas air (biar nggak jadi es).
Liquefaction: Didinginkan sampai suhu ekstrem (sekitar -20°C sampai -30°C) hingga gas CO2 berubah wujud jadi cair.
CO2 cair inilah yang kemudian disimpan dalam tangki bola (spherical tank) atau horizontal tank sebelum diangkut pakai truk tangki ke pembeli.
Kendala yang Sering Bikin Mekanik "Garuk Kepala"
Di Subang, operasionalnya punya tantangan tersendiri:
Degradasi Amine: Karena suhu pemanasan yang tinggi dan adanya oksigen, cairan Amine bisa rusak dan berubah warna jadi gelap. Kalau sudah rusak, daya serapnya turun drastis.
Heat Exchanger Fouling: Kerak sering muncul di penukar panas, bikin proses pendinginan atau pemanasan nggak maksimal.
Vibrasi Kompresor CO2: Karena CO2 punya massa jenis yang berat, kompresornya harus dijaga benar-benar biar nggak vibrasi tinggi.
Kesimpulan
CO2 Plant Subang adalah bukti kalau operasional migas bisa sejalan dengan kelestarian lingkungan. Dari yang tadinya gas pengotor, jadi produk yang bisa bikin minuman jadi segar (soda) atau mengawetkan makanan (dry ice).
Literasi & Referensi:
Annual Report PT Pertamina EP: Sejarah pengembangan lapangan Subang.
Gas Purification (Arthur Kohl): Teori dasar penyerapan gas asam.
Standard Operating Procedure (SOP) CO2 Plant Subang: Alur teknis operasional harian.